Lima tahun yang lalu, Alloh telah memanggil orang yang kusayangi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surga, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Ya Alloh..! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya ... Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Ayah ... "
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal.... Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.
Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Ayah". Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu..... Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin,dan hari raya idul fitri pun telah tiba. tapi astagfirulloh, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bias menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Ayah". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya? Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk ibu.....". Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?" Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus". Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakana .... Aku bilang pada anakku, "Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada ibu. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Ibu sayang', Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. Ibu, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi ibu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat ibu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....
Ayah.. Minta Maaf nak..........
~~~
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, Untuk para istri, yang telah dianugerahi seorang suami yang baik atau untuk calon ibu atau bapak, yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu, membimbingmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu. Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.
Sumber : http://jifasmart.blogspot.com/2010/05/cerita-ayah-minta-maaf-nak.html
Minggu, 08 Januari 2012
Kisah Anak Manusia Yang Ber-orangtuakan Kucing
Awalnya, aku berniat mengikuti sayembara menulis cerita rakyat yang diselenggarakan balai budaya di kota. Niatnya tak kesampaian, untungnya menulis cerita rakyat itu justru tersampaikan di blog ini. Niat baik yang tak kesampaian ini, kuceritakan pada salah seorang rekanku di kantor. Katanya, lebih baik aku menulis tentang cerita rakyat Tionghoa seperti kue bulan dan ba’cang. Oleh karenanya, rekanku ini siap dan bersedia ditanyai tentang budaya-budaya Tionghoa lainnya. Waaaaah, matilah aku, kok jadi serius begini?. Oke, mungkin ide cerita kue bulan dan ba’cang itu bisa dilanjutkan kapan-kapan, tidak kali ini.
Lalu, sepulang dari kantor, aku langsung menuju rumah berhubung kekasih membatalkan jadwal makan malam kami karena benar-benar kelelahan mengikuti bos-bos calon pemimpin negeri ini selama seharian penuh. Akhirnya, sampailah aku di rumah seperti seekor kucing yang benar-benar kelaparan. Iseng, aku menceritakan sayembara cerita rakyat kepada adik-adikku yang lagi asyik menonton televisi. Yang paling kecilpun mulai nyolot, dan beginilah ceritanya (menurut versi adik bungsuku yang sejujurnya aku juga tak tahu, ibu-bapak apalagi, darimana asal muasal cerita ini berasal).
Pada zaman dahulu kala (standard penulisan cerita rakyat kan begini ya?), sepasang kucing jantan dan betina sedang asyik berbulan madu di tengah keheningan malam dan diiringi irama yang penuh syahdu. Sungguh tak disangka, tak berapa lama, buah cinta sepasang kucing ini ternyata melahirkan seorang anak manusia yang cantik nan rupawan. Sungguh semuanya adalalah anugerah dari Dewa-dewi di kayangan, pikir Kucing Jantan dan Betina seperti itu. Merekapun mengasuh anak manusia itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. (Sampai disini, jangan ada yang protes, kok bisa kucing ngelahirin anak manusia? Yah, namanya juga dongeng! Sabar dulu ya pembaca…). Anak manusia itupun tumbuh menjadi seorang gadis jelita yang disukai banyak pria di kampungnya. Namun, satu persatu pria-pria itu mundur menggapai cintanya, tatkala mengetahui sang gadis beribu-bapakkan sepasang kucing, Jantan dan Betina.
Sang gadis pun menangis, berlari sambil terisak-isak dan meninggalkan kedua orang tua yang sudah mengasuhnya. Sang gadis bertekad, dia harus mencari sosok orangtua lain, yang lebih keren (kata anak jaman sekarang) hingga tak perlu merasa malu berorangtuakan Kucing. Lalu, sang gadispun menatap ke langit yang cerah. Dilihatnya, matahari begitu menantang dan menawan dengan cahaya panasnya yang menyengat. Dalam pikirian anak gadis yang picik ini, pastilah hanya Matahari yang pantas menjadi orangtua sebenarnya.
‘’Wahai Matahari, maukah kau menjadi orangtuaku ? Aku malu beribu-bapakkan kucing, mungkin Kaulah yang pantas menjadi orangtuaku. ‘’
‘’Anak manusia, sungguh aku tak pantas menjadi orangtuamu, karena ada makhluk lain yang lebih sakti melebihi kemampuanku. Dia mampu menggelapkan cahaya-cahayaku, bahkan Dia mampu melenyapkanku seketika saat aku sedang bersinar dengan cerahnya”
Di dalam hati anak manusia yang dodol ini, diapun bertekad harus menemukan sosok sakti yang di ceritakan oleh sang Matahari. Sosok sakti itulah yang lebih pantas menjadi orangtuanya kelak.
“Siapakah makhluk itu, wahai Matahari?’’
‘’Sang Awan” jawab Matahari.
Lalu, Mataharipun lenyap seketika, tiba-tiba saja hari yang begitu panas dan menyengat tadi langsung berubah menjadi sejuk dan adem. Muncul sang Awan, dengan warna putihnya yang sangat lembut. Tanpa basa-basi, gadis inipun memberikan penawaran yang sama kepada Awan, apakah mau menjadi orangtua nya? Ternyata, di atas langit masih ada langit. Awan yang begitu sakti melenyapkan Matahari ternyata masih merasa tak pantas menjadi orang tua si anak gadis. Awan mengatakan bahwa masih ada kesaktian yang tak dapat ditandinginya di alam jagad raya ini, Angin namanya. Seketika hembusan teramat dingin menyergap paras gadis yang molek ini. Lalu, Awanpun pecah berurai seketika, lenyap tanpa bekas, yang ada hanyalah Angin sepoi-sepoi yang menenangkan hati dan jiwa. Gadispun tak tinggal diam, ditanyakanlah perihal yang sama kepada Angin, apakah mau menjadi orangtuanya kelak. Anginpun ternyata mengelak dengan alasan masih ada kesaktian lain yang mampu mengalahkan hembusan-hembusannya. Sang Angin kemudian menunjuk kepada Gunung di atas sana. Angin bercerita kalau Gunung di ujung sana sanggup menahan hembusan badai sekalipun. Gunung itu begitu kokoh, tak dapat ditaklukkan. Si gadis jelitapun hampir putus asa, lalu berjalan kaki menuju puncak Gunung yang ditunjuk sang Angin. Sesampainya di Gunung, sang gadispun mulai berkeluh kesah tentang alasannya mendaki sang Gunung. Gunung malah tertawa, merasa sang gadis mempermainkannya. Sang Gunung pun berkata seperti ini,
“Gadis, kau tahu? Begitupun aku terlihat kokoh, masih ada satu makhluk yang suka sekali menginjak dan mengacak-ngacak kulitku di dunia ini. Jangan pura-pura tak tahu, Gadis! Kau lihat itu si Kerbau sudah mulai menginjak harga diriku!’’
Sang Gadis hampir benar-benar gila dan putus asa, melihat kenyataan tak satupun sosok sakti yang bersedia menjadi orangtuanya, lantaran masih ada yang lebih sakti di antara yang paling sakti. Lalu, gadispun menuruni kaki gunung, lalu mulai menepi ke hamparan sawah petani dan menyapa sang Kerbau. Masih dengan pola cerita yang sama, Kerbau pun langsung mengerti maksud gadis jelita ini. Namun, malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat di raih. Si Kerbau malah mengeluh kepada si Gadis karena sebenarnya masih ada makhluk bawah tanah yang sering mengacaukan tanah-tanah yang sudah dibajaknya dengan peluh keringat, lalu merusak lahan persawahan petani hingga dianggap sebagai hama oleh petani. Bahkan, makhluk-makhluk bawah tanah ini sering menggigiti kakinya saat kerbau sedang membajak sawah. Sang Gadis kali ini benar-benar putus asa, dan bertanya pada sang Kerbau, siapakah makhluk bawah tanah yang dimaksud? Jawaban Kerbau adalah para cecurut alias Tikus yang selalu menjadi hama petani.
Oke, sampai disini, ceritanya bisa ditebakkan? Si gadis jelita pun memohon agar sang Tikus menjadi orang tuanya. Ah, dasar bodoh! Tebak apa jawaban sang Tikus ? Tikus merasa tak punya kesaktian apa-apa karena hampir seluruh keluarga-nya dimakan oleh sang Kucing!. Hahahahhaha…. Nah looooh, dengan mata berlinang dan penuh sesal, gadis jelita inipun kembali pulang kepangkuan Ibu-Bapak kandungnya, sang Kucing Jantan dan Kucing Betina.
Nah, terlepas dari fiksi-nonfiksi-benar-apa-tidaknya ini cerita, apakah pesan moral yang ingin disampaikan? Pesannya adalah, siapapun orang tuamu, bagaimanapun rentanya dia, bagaimanapun menjengkelkannya dia, bagaimana buruknya keduanya dihadapanmu, bagaimanapun mereka tidak dapat menerima kelesbiananmu, bagaimanapunnnnn jugaaa…. Apalagi orang tua yang benar-benar merawatmu sedari kecil, bahkan mungkin masih merawatmu sampai sekarang….. Mungkin kau tak sadar, Ibulah yang mencucikan baju, menyetrika dan menjahit bajumu yang sudah robek, memasak sarapanmu setiap pagi. Mungkin kau juga tak sadar, Bapaklah yang setiap hari mengecek oli, air karburator atau minyak rem dari mesin kendaraanmu, hanya sekedar memastikan bahwa kendaraanmu memang benar-benar aman digunakan. Terimalah mereka dengan ikhlas, sebagai orang tuamu yang sebenar-benarnya. Tak ada orang lain ataupun orang tua selain orang tuamu sendiri, yang berhak menggantikan kedudukan keduanya, yang pantas menggantikan posisi mereka sebagai orang tuamu.
Ah, tak sangka, aku justru menulis kisah seperti ini di blog lesbianku. Karena aku tahu, seringkali seorang lesbian yang merasa sudah mapan dan dewasa, malah seperti terlupa akan jasa-jasa orang tuanya… Tak memperdulikan keduanya, bahkan terkesan menomorsekian-sekiankan orang tuanya setelah kekasih hatinya yang sangat dicintainya, ataupun berurut sekian-sekian-sekian jauh di urutan prioritas pekerjaannya,,,,,
Cintailah orang tuamu dan sayangilah mereka, apa adanya…
Sumber : http://ariegere.wordpress.com/2009/06/25/dongeng-rakyat-kisah-anak-manusia-yang-ber-orangtuakan-kucing/
Lalu, sepulang dari kantor, aku langsung menuju rumah berhubung kekasih membatalkan jadwal makan malam kami karena benar-benar kelelahan mengikuti bos-bos calon pemimpin negeri ini selama seharian penuh. Akhirnya, sampailah aku di rumah seperti seekor kucing yang benar-benar kelaparan. Iseng, aku menceritakan sayembara cerita rakyat kepada adik-adikku yang lagi asyik menonton televisi. Yang paling kecilpun mulai nyolot, dan beginilah ceritanya (menurut versi adik bungsuku yang sejujurnya aku juga tak tahu, ibu-bapak apalagi, darimana asal muasal cerita ini berasal).
Pada zaman dahulu kala (standard penulisan cerita rakyat kan begini ya?), sepasang kucing jantan dan betina sedang asyik berbulan madu di tengah keheningan malam dan diiringi irama yang penuh syahdu. Sungguh tak disangka, tak berapa lama, buah cinta sepasang kucing ini ternyata melahirkan seorang anak manusia yang cantik nan rupawan. Sungguh semuanya adalalah anugerah dari Dewa-dewi di kayangan, pikir Kucing Jantan dan Betina seperti itu. Merekapun mengasuh anak manusia itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. (Sampai disini, jangan ada yang protes, kok bisa kucing ngelahirin anak manusia? Yah, namanya juga dongeng! Sabar dulu ya pembaca…). Anak manusia itupun tumbuh menjadi seorang gadis jelita yang disukai banyak pria di kampungnya. Namun, satu persatu pria-pria itu mundur menggapai cintanya, tatkala mengetahui sang gadis beribu-bapakkan sepasang kucing, Jantan dan Betina.
Sang gadis pun menangis, berlari sambil terisak-isak dan meninggalkan kedua orang tua yang sudah mengasuhnya. Sang gadis bertekad, dia harus mencari sosok orangtua lain, yang lebih keren (kata anak jaman sekarang) hingga tak perlu merasa malu berorangtuakan Kucing. Lalu, sang gadispun menatap ke langit yang cerah. Dilihatnya, matahari begitu menantang dan menawan dengan cahaya panasnya yang menyengat. Dalam pikirian anak gadis yang picik ini, pastilah hanya Matahari yang pantas menjadi orangtua sebenarnya.
‘’Wahai Matahari, maukah kau menjadi orangtuaku ? Aku malu beribu-bapakkan kucing, mungkin Kaulah yang pantas menjadi orangtuaku. ‘’
‘’Anak manusia, sungguh aku tak pantas menjadi orangtuamu, karena ada makhluk lain yang lebih sakti melebihi kemampuanku. Dia mampu menggelapkan cahaya-cahayaku, bahkan Dia mampu melenyapkanku seketika saat aku sedang bersinar dengan cerahnya”
Di dalam hati anak manusia yang dodol ini, diapun bertekad harus menemukan sosok sakti yang di ceritakan oleh sang Matahari. Sosok sakti itulah yang lebih pantas menjadi orangtuanya kelak.
“Siapakah makhluk itu, wahai Matahari?’’
‘’Sang Awan” jawab Matahari.
Lalu, Mataharipun lenyap seketika, tiba-tiba saja hari yang begitu panas dan menyengat tadi langsung berubah menjadi sejuk dan adem. Muncul sang Awan, dengan warna putihnya yang sangat lembut. Tanpa basa-basi, gadis inipun memberikan penawaran yang sama kepada Awan, apakah mau menjadi orangtua nya? Ternyata, di atas langit masih ada langit. Awan yang begitu sakti melenyapkan Matahari ternyata masih merasa tak pantas menjadi orang tua si anak gadis. Awan mengatakan bahwa masih ada kesaktian yang tak dapat ditandinginya di alam jagad raya ini, Angin namanya. Seketika hembusan teramat dingin menyergap paras gadis yang molek ini. Lalu, Awanpun pecah berurai seketika, lenyap tanpa bekas, yang ada hanyalah Angin sepoi-sepoi yang menenangkan hati dan jiwa. Gadispun tak tinggal diam, ditanyakanlah perihal yang sama kepada Angin, apakah mau menjadi orangtuanya kelak. Anginpun ternyata mengelak dengan alasan masih ada kesaktian lain yang mampu mengalahkan hembusan-hembusannya. Sang Angin kemudian menunjuk kepada Gunung di atas sana. Angin bercerita kalau Gunung di ujung sana sanggup menahan hembusan badai sekalipun. Gunung itu begitu kokoh, tak dapat ditaklukkan. Si gadis jelitapun hampir putus asa, lalu berjalan kaki menuju puncak Gunung yang ditunjuk sang Angin. Sesampainya di Gunung, sang gadispun mulai berkeluh kesah tentang alasannya mendaki sang Gunung. Gunung malah tertawa, merasa sang gadis mempermainkannya. Sang Gunung pun berkata seperti ini,
“Gadis, kau tahu? Begitupun aku terlihat kokoh, masih ada satu makhluk yang suka sekali menginjak dan mengacak-ngacak kulitku di dunia ini. Jangan pura-pura tak tahu, Gadis! Kau lihat itu si Kerbau sudah mulai menginjak harga diriku!’’
Sang Gadis hampir benar-benar gila dan putus asa, melihat kenyataan tak satupun sosok sakti yang bersedia menjadi orangtuanya, lantaran masih ada yang lebih sakti di antara yang paling sakti. Lalu, gadispun menuruni kaki gunung, lalu mulai menepi ke hamparan sawah petani dan menyapa sang Kerbau. Masih dengan pola cerita yang sama, Kerbau pun langsung mengerti maksud gadis jelita ini. Namun, malang tak dapat ditolak, untung pun tak dapat di raih. Si Kerbau malah mengeluh kepada si Gadis karena sebenarnya masih ada makhluk bawah tanah yang sering mengacaukan tanah-tanah yang sudah dibajaknya dengan peluh keringat, lalu merusak lahan persawahan petani hingga dianggap sebagai hama oleh petani. Bahkan, makhluk-makhluk bawah tanah ini sering menggigiti kakinya saat kerbau sedang membajak sawah. Sang Gadis kali ini benar-benar putus asa, dan bertanya pada sang Kerbau, siapakah makhluk bawah tanah yang dimaksud? Jawaban Kerbau adalah para cecurut alias Tikus yang selalu menjadi hama petani.
Oke, sampai disini, ceritanya bisa ditebakkan? Si gadis jelita pun memohon agar sang Tikus menjadi orang tuanya. Ah, dasar bodoh! Tebak apa jawaban sang Tikus ? Tikus merasa tak punya kesaktian apa-apa karena hampir seluruh keluarga-nya dimakan oleh sang Kucing!. Hahahahhaha…. Nah looooh, dengan mata berlinang dan penuh sesal, gadis jelita inipun kembali pulang kepangkuan Ibu-Bapak kandungnya, sang Kucing Jantan dan Kucing Betina.
Nah, terlepas dari fiksi-nonfiksi-benar-apa-tidaknya ini cerita, apakah pesan moral yang ingin disampaikan? Pesannya adalah, siapapun orang tuamu, bagaimanapun rentanya dia, bagaimanapun menjengkelkannya dia, bagaimana buruknya keduanya dihadapanmu, bagaimanapun mereka tidak dapat menerima kelesbiananmu, bagaimanapunnnnn jugaaa…. Apalagi orang tua yang benar-benar merawatmu sedari kecil, bahkan mungkin masih merawatmu sampai sekarang….. Mungkin kau tak sadar, Ibulah yang mencucikan baju, menyetrika dan menjahit bajumu yang sudah robek, memasak sarapanmu setiap pagi. Mungkin kau juga tak sadar, Bapaklah yang setiap hari mengecek oli, air karburator atau minyak rem dari mesin kendaraanmu, hanya sekedar memastikan bahwa kendaraanmu memang benar-benar aman digunakan. Terimalah mereka dengan ikhlas, sebagai orang tuamu yang sebenar-benarnya. Tak ada orang lain ataupun orang tua selain orang tuamu sendiri, yang berhak menggantikan kedudukan keduanya, yang pantas menggantikan posisi mereka sebagai orang tuamu.
Ah, tak sangka, aku justru menulis kisah seperti ini di blog lesbianku. Karena aku tahu, seringkali seorang lesbian yang merasa sudah mapan dan dewasa, malah seperti terlupa akan jasa-jasa orang tuanya… Tak memperdulikan keduanya, bahkan terkesan menomorsekian-sekiankan orang tuanya setelah kekasih hatinya yang sangat dicintainya, ataupun berurut sekian-sekian-sekian jauh di urutan prioritas pekerjaannya,,,,,
Cintailah orang tuamu dan sayangilah mereka, apa adanya…
Sumber : http://ariegere.wordpress.com/2009/06/25/dongeng-rakyat-kisah-anak-manusia-yang-ber-orangtuakan-kucing/
Lirik Lagu Iwan Fals - Surat Buat Wakil Rakyat
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu ’setuju’
Sumber : http://www.rizkyonline.com/Iwan-Fals/Iwan-Fals-Surat-Buat-Wakil-Rakyat.html
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu ’setuju’
Sumber : http://www.rizkyonline.com/Iwan-Fals/Iwan-Fals-Surat-Buat-Wakil-Rakyat.html
Ludah yang kering
Lihatlah!
masih adakah hati yang berisi?
ketika logika sudah berbau terasi
ketika nurani kian ter-erosi..
di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi
Lihatlah!
Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
kucing justru giat pamer gusi...
terbuai diempuknya jok mercy
Lihatlah!
Gempita riuhnya demokrasi
menumbuhkan nurani yang semakin membesi
saat Rakyat butuh nasi..
namun justru di kremasi
Ah, sudahlah!
ini bukan Demonstrasi. .
ini juga bukan mosi...
ini hanyalah puisi...
dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
masih adakah hati yang berisi?
ketika logika sudah berbau terasi
ketika nurani kian ter-erosi..
di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi
Lihatlah!
Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
Ketika tikus sibuk pesta korupsi
kucing justru giat pamer gusi...
terbuai diempuknya jok mercy
Lihatlah!
Gempita riuhnya demokrasi
menumbuhkan nurani yang semakin membesi
saat Rakyat butuh nasi..
namun justru di kremasi
Ah, sudahlah!
ini bukan Demonstrasi. .
ini juga bukan mosi...
ini hanyalah puisi...
dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
Memasak Sarden Kalengan (menu ‘agak’ sederhana)
bahan-bahan :
1 kaleng sarden (tergantung untuk berapa porsi, klo lagi ada duit beli sarden yg mereknya Ayam Brand, klo lagi agak cekak yang merek ABC atau lainnya juga enak kok.. ), 3 siung bawang merah, 3 siung bawang putih, 1 potong jahe (seukuran 2 ruas jari), 2 batang sereh, 3 atau 4 buah cabai merah, 1 buah cabai rawit jawa (awas cabe ganas ), daun bawang, 1 buah tomat, gula dan garam secukupnya, 2 sendok makan minyak goreng. air secukupnya (klo suka kuahnya encer, tambahin airnya)
olah bahan :
kaleng sarden (dibuka dong kalengnya ), bawang merah dan putih (iris halus atau di geprek sama enaknya), jahe (kupas dulu, kemudian di geprek), sereh (di geprek pentol ujungnya), cabai merah dan rawit jawa (iris halus), daun bawang (iris halus), tomat (potong jadi 4 aja),
cara memasak :
nyalakan kompor dengan api kecil saja. masukkan bawang merah dan putih ke dalam wajan yang sudah agak panas, biarkan sekitar 1 menit. aroma bawang akan muncul. masukkan jahe dan cabai yang sudah dirajang/diiris halus. masukkan sereh. aduk. (sekarang aroma bumbunya semakin wangi.. nyam..:D)
masukkan sarden di dalam kaleng ke dalam wajan. pelan-pelan aduk sarden dan bumbu supaya meresap. tambahkan air sesuai selera, tunggu kuahnya agak mengental. tambahkan tomat yang sudah dipotong dan daun bawang yang sudah dirajang. tambahkan garam dan gula sesuai selera. tunggu hingga matang.
best served :
sajikan bersama nasi hangat yang tidak terlalu pulen (seperti nasi yang biasa digunakan tukang nasgor), dan es jeruk (ada yang pernah noba es jeruk kunci? maknyus sodara-sodara..:D).
selamat mencoba!
p.s.: sarden adalah menu kesukaan saya di rumah jogja, entah makan sama adek saya atau sama anak kost lainnya. sama enaknya.
Sumber : http://caymanislands.wordpress.com/2008/05/12/memasak-sarden-kalengan-menu-agak-sederhana/
1 kaleng sarden (tergantung untuk berapa porsi, klo lagi ada duit beli sarden yg mereknya Ayam Brand, klo lagi agak cekak yang merek ABC atau lainnya juga enak kok.. ), 3 siung bawang merah, 3 siung bawang putih, 1 potong jahe (seukuran 2 ruas jari), 2 batang sereh, 3 atau 4 buah cabai merah, 1 buah cabai rawit jawa (awas cabe ganas ), daun bawang, 1 buah tomat, gula dan garam secukupnya, 2 sendok makan minyak goreng. air secukupnya (klo suka kuahnya encer, tambahin airnya)
olah bahan :
kaleng sarden (dibuka dong kalengnya ), bawang merah dan putih (iris halus atau di geprek sama enaknya), jahe (kupas dulu, kemudian di geprek), sereh (di geprek pentol ujungnya), cabai merah dan rawit jawa (iris halus), daun bawang (iris halus), tomat (potong jadi 4 aja),
cara memasak :
nyalakan kompor dengan api kecil saja. masukkan bawang merah dan putih ke dalam wajan yang sudah agak panas, biarkan sekitar 1 menit. aroma bawang akan muncul. masukkan jahe dan cabai yang sudah dirajang/diiris halus. masukkan sereh. aduk. (sekarang aroma bumbunya semakin wangi.. nyam..:D)
masukkan sarden di dalam kaleng ke dalam wajan. pelan-pelan aduk sarden dan bumbu supaya meresap. tambahkan air sesuai selera, tunggu kuahnya agak mengental. tambahkan tomat yang sudah dipotong dan daun bawang yang sudah dirajang. tambahkan garam dan gula sesuai selera. tunggu hingga matang.
best served :
sajikan bersama nasi hangat yang tidak terlalu pulen (seperti nasi yang biasa digunakan tukang nasgor), dan es jeruk (ada yang pernah noba es jeruk kunci? maknyus sodara-sodara..:D).
selamat mencoba!
p.s.: sarden adalah menu kesukaan saya di rumah jogja, entah makan sama adek saya atau sama anak kost lainnya. sama enaknya.
Sumber : http://caymanislands.wordpress.com/2008/05/12/memasak-sarden-kalengan-menu-agak-sederhana/
Pantun Buat Ibu
Tarian gamelan lagu senandung,
Warisan bangsa penuh keramat;
Sembilan bulan sarat mengandung,
Tetap ceria sedia berkhidmat.
Anak ikan di dalam balang,
Tidak banyak berenang sendiri;
Sakit melahirkan bukan kepalang,
Melihat anak wajah berseri.
Anak rubah dipanggang api,
Dimakan oleh orang Iban;
Penat lelah tolak ke tepi,
Demi anak rela berkorban.
Pergi ke pekan membeli laici,
Singgah berehat bersama teman;
Marahnya bukan marah membenci,
Sebagai nasihat jadikan pedoman.
Ulam pegaga tumbuh melata,
Tumbuh banyak di laman depan;
Emas permata tiada dipinta,
Kejayaan anak menjadi harapan.
Buat rumah dari kayu-kayan,
Masak bersama ikan keli;
Harta melimpah bukan impian,
Selaut kasih lebih bererti.
Pedas rasanya cabai Melaka,
Masak bersama ikan keli;
Sekali hatinya terguris luka,
Nikmat syurga jauh sekali.
Air dicedok dari perigi,
Membasuh tangan selepas makan;
Andai dia telah pergi,
Sepotong doa anak sedekahkan.
Serai serumpun sirih sejunjung,
Diletak orang di tengah laman;
Kasih ibu tiada penghujung,
Menjadi sanjungan ke akhir zaman.
Sumber : http://ixoramerah.wordpress.com/2011/02/25/pantun-buat-ibu/
Warisan bangsa penuh keramat;
Sembilan bulan sarat mengandung,
Tetap ceria sedia berkhidmat.
Anak ikan di dalam balang,
Tidak banyak berenang sendiri;
Sakit melahirkan bukan kepalang,
Melihat anak wajah berseri.
Anak rubah dipanggang api,
Dimakan oleh orang Iban;
Penat lelah tolak ke tepi,
Demi anak rela berkorban.
Pergi ke pekan membeli laici,
Singgah berehat bersama teman;
Marahnya bukan marah membenci,
Sebagai nasihat jadikan pedoman.
Ulam pegaga tumbuh melata,
Tumbuh banyak di laman depan;
Emas permata tiada dipinta,
Kejayaan anak menjadi harapan.
Buat rumah dari kayu-kayan,
Masak bersama ikan keli;
Harta melimpah bukan impian,
Selaut kasih lebih bererti.
Pedas rasanya cabai Melaka,
Masak bersama ikan keli;
Sekali hatinya terguris luka,
Nikmat syurga jauh sekali.
Air dicedok dari perigi,
Membasuh tangan selepas makan;
Andai dia telah pergi,
Sepotong doa anak sedekahkan.
Serai serumpun sirih sejunjung,
Diletak orang di tengah laman;
Kasih ibu tiada penghujung,
Menjadi sanjungan ke akhir zaman.
Sumber : http://ixoramerah.wordpress.com/2011/02/25/pantun-buat-ibu/
Sajak Persahabatan
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Sumber : ajiramiazawa.wordpress.com/2011/06/06/sajak-persahabatan-kahlil-gibran/
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Sumber : ajiramiazawa.wordpress.com/2011/06/06/sajak-persahabatan-kahlil-gibran/
Langganan:
Postingan (Atom)